Yang Penting Heppiii. Ketika kamu punya kesempatan berkunjung ke Dusun Ponggok, Desa Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Jogjakarta, aura sejuk langsung terasa. Deretan pohon pisang yang berjejer rapi di halaman-halaman rumah warga membuat pemandangan di dusun tersebut jadi sedap dipandang.

Lasiyo Syaifuddin

Source: jawapos.com

Adalah Lasiyo Syaifuddin, yang kini berusia 61 tahun, sang inisiator di balik perubahan wajah dusun yang hanya berjarak 3 kilometer dari pantai selatan Jawa itu. Dalam beberapa tahun terakhir, dusun yang memiliki 300 KK tersebut telah menjelma menjadi ”hutan” pohon pisang. Rata-rata setiap KK (kepala keluarga) di sini punya seratus pohon bernama Latin Musa Paradisiaca di halaman rumahnya.

Awal 2007 lalu, beberapa bulan setelah gempa berkekuatan 5,6 skala Richter yang meluluhlantakkan Bantul dan daerah-daerah sekitarnya, Lasiyo punya gagasan menanam pisang secara massal di dusunnya. Dilatarbelakangi kebesaran hatinya untuk menolong korban gempa, ia lalu mempelopori pemberdayaan pohon pisang di rumah-rumah warga.

Lasiyo Syaifuddin

Source: berbagisemangat.com

Bukan tanpa alasan, selain mudah ditanam, pohon pisang relatif cepat dipanen. Mantap dengan alasannya, Lasiyo lantas meminta restu lurah setempat. Tujuannya, pengadaan bibit pohon pisangnya bisa difasilitasi. Kebetulan pula, ada dana yang dialokasikan untuk membangun daerah-daerah yang menjadi korban gempa. Saat itu, untuk satu bibit, kelurahan memberikan bantuan Rp 5.000.

Pisang pulut, klutuk, kepok, ambon, byok, raja, dan uter adalah beberapa varietas yang ditawarkan Lasiyo ke warga. ”Dulu istilahnya sakolehe (sedapatnya saja, Red),” kenangnya. Niat baiknya pun disambut antusias oleh warga. Lalu dibentuklah poktan (kelompok tani) yang dinamai Puspita Hati yang berperan mencarikan jalan keluar bagi masalah-masalah yang terjadi di lapangan. Mulai soal hama, pemupukan, hingga pemasaran pisang setelah dipanen.

Lasiyo Syaifuddin

Source: radarjogja.co

Dari sinilah semuanya berawal.  Ia memelopori pembuatan obat khusus hama dari berbagai ramuan organik. Selain bisa membasmi hama, ramuan tersebut mampu menggenjot kualitas pisang yang dihasilkan. Siapa sangka, pria jebolan kejar paket B (setara SMP) itu mampu menghasilkan pestisida pertanian yang berkualitas.

Terobosan lain Lasiyo bisa dibilang cukup brilian, mulai dari memadukan bawang merah dan kucai sebagai bahan ramuan sampai bonggol pisang yang biasanya dibiarkan membusuk setelah ditebang disulapnya menjadi kerupuk.

Lasiyo Syaifuddin

Source: youtube.com

Seiring berjalannya waktu, Lasiyo mulai mendatangkan varietas-varietas pisang lainnya dari berbagai tempat. Khususnya pisang-pisang lokal Indonesia. Tujuannya, bisa ikut menjaga varietas pisang-pisang lokal itu dari kepunahan. Hebatnya, saat ini terdapat 18 varietas pisang yang tumbuh subur di Dusun Ponggok. Antara lain raja bagus, raja bulu, raja sere, raja jengkel, kapok kuning, ambon kuning, ambon lumut, raja pulut, raja kidang, kojo atau pisang susu, raja sewu, pulut, klutuk, mas kirana, gabu atau koprek, byok, dan pisang moro sebo. Tapi Raja Baguslah yang menjelma jadi varietas unggulan Dusun Ponggok. Rasanya yang manis dan dagingnya yang besar serta tidak berbiji membuat nilai jualnya tinggi.

Lasiyo Syaifuddin

Source: mitalom.com

Alhasil, keberhasilannya menggerakkan warga membudidayakan pohon pisang menarik perhatian banyak pihak. Nggak tanggung-tanggung, para peneliti asing asal Australia, Thailand, Belanda, Jepang, Afghanistan, hingga Italia pun berbondong-bondong mengunjungi desa Lasiyo.

Puncaknya terjadi ketika Lasiyo diundang untuk menghadiri konferensi para peneliti dari 70 negara di Italia September lalu. Dalam konferensi itu, “professor” Lasiyo diminta mempresentasikan temuan-temuannya dalam pembudidayaan pohon pisang yang ”di luar ilmiah”, tapi sangat sukses tersebut.

Lasiyo Syaifuddin

Source: 8villages.com

Sayangnya, ada satu hal yang membuat Lasiyo cukup menyesal. ”Saya nggak bisa bahasa Inggris. Sehingga, kalau ada peserta yang nanya sesuatu, penerjemah saya yang menjawab. Pasti jawabannya jadi kurang memuaskan. Terus terang, saya menyesal sampai sekarang,” ungkapnya. (YPH/HL)