Yang Penting Heppiii. Indonesia memiliki lebih dari 300 kelompok etnis, atau 1.340 suku asli. Keragaman ini menjadikan Indonesia salah satu budaya terkaya di dunia. Representasi budaya di panggung internasional menjadikan acara-acara tradisional ini menjadi daya tarik wisata yang unik.
Bekerja sama dengan pemerintah daerah dan Kementerian Pariwisata, sejumlah acara keagamaan dan upacara telah diperkenalkan kepada publik melalui festival, beberapa di antaranya luar biasa otentik.
Festival Lembah Baliem, Papua
Festival Budaya Lembah Baliem adalah salah satu festival paling menarik di Indonesia. Ratusan pria asli Papua dari berbagai suku bertarung dengan seragam tradisional (koteka dan tutup kepala) dan mengecat wajah mereka dengan bubuk putih.


Diadakan di pegunungan, festival ini berlangsung selama tiga hari dan termasuk atraksi perang suku dan budaya asli Lembah Baliem, wilayah pegunungan tua Papua.
Festival Pasola, Sumba
Pasola adalah bagian dari rangkaian upacara tradisional untuk menyambut masa panen dan penanaman di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Barat. Diadakan di empat desa di Sumba Barat, Pasola adalah permainan perang menggunakan kuda dan tombak sebagai senjata.
Meskipun puncak Pasola tampaknya keras, turnamen ini adalah bagian dari kepercayaan tradisional Marapu di Sumba, di mana Pasola merupakan bagian integral dari ritual tahunan yang diadakan bersama ritual Bau Nyale (mirip dengan Pulau Lombok) atau kedatangan badai salju di sepanjang pantai Sumba . Baca kisah Festival Pasola oleh Stephanie Brookes dan David Metcalf.

Festival Dieng, Wonosobo
Acara ini diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Jawa Tengah dan warga Dataran Tinggi Dieng, pada bulan Agustus. Daya tarik utama Dieng Festival adalah ritual pemotongan gimbal, festival kembang api, 5000 lentera terbang, Jazz di Atas Awan, festival film, dan pertunjukan seni tradisional.

Festival Reog Ponorogo, Ponorogo
Festival ini berasal dari Ponorogo, di mana kota ini menjadi rumah Reog, sekelompok pertunjukan di mana orang-orang menggunakan kostum tradisional dan harimau raksasa atau topeng merak. Festival Reog biasanya diselenggarakan untuk menyambut tahun baru Islam.

Festival Reog Nasional diadakan di Alun-Alun Kota Ponorogo yang menampilkan serangkaian pertunjukan yang menciptakan narasi. Bagian yang menarik tentang Ponorogo adalah keterlibatan spiritual dan astralnya ketika para pemain bertindak seolah-olah mereka 'kerasukan'.
Festival Rambu Solo, Toraja
Rambu Solo adalah upacara pemakaman di Tana Toraja, Sulawesi. Ritual adat ini menuntun roh almarhum ke alam roh. Upacara tersebut menciptakan suasana mistis dan sering diisi dengan turis asing yang mengunjungi Toraja. Pembantaian kerbau atau Mantunu adalah bagian dari upacara Rambu Solo di mana sekitar 24 hingga 100 kerbau disembelih untuk menandakan kematian.

Festival Tabuik, Pariaman
Kota Pariaman, Sumatra Barat adalah rumah bagi Minangkabau tradisional, suku di Sumatera Barat. Pariaman memiliki festival unik, Tabuik, ritual adat yang melibatkan dua kelompok masyarakat, Pasa dan Subarang. Selama bulan Islam Muharram, masyarakat Pariaman membuat tabuik (perwujudan legenda bernama Buraq yang membawa peti mati di punggungnya).

Menurut mitologi lokal, Buraq adalah makhluk setengah manusia dan setengah kuda. Sesuai dengan tradisi Islam, orang-orang Pariaman Minangkabau merayakan Tabuik dekat pantai di daerah pesisir saat mereka berkumpul untuk memperingati hari kematian Imam Hussein atau peringatan Asyura yang jatuh pada hari kesepuluh di bulan Muharram.
Festival Gawai, Dayak
Festival tradisional ini awalnya diadakan berdasarkan mitologi seputar Dewa Padi yang populer di kalangan suku Dayak di Kalimantan Barat. Dalam Festival gawai, beberapa upacara berlangsung di kota dan lamin (rumah panjang).
Persembahan makanan dipersembahkan untuk dewa beras demi panen yang baik. Ada seorang penyair yang membaca mantra khusus untuk upacara ini dan menumpahkan darah ayam jago pada materi persembahan. Baca kisah Gawai Fetsival oleh Stephanie Brookes dan David Metcalf.

Upacara Yadnya Kasada, Tengger
Diwarisi oleh legenda Roro Anteng dan Joko Seger, Yadnya Kasada atau (Kasodo) adalah salah satu ritual tahunan terbesar dari suku asli Tengger di Bromo. Saat bulan purnama, umat Hindu Tengger melempar persembahan ke kawah Gunung Bromo, termasuk sayur-sayuran, buah-buahan, ternak, dan uang. Semua itu merupakan wujud rasa terima kasih atas kesejahteraan yang dianggap diberikan oleh Gunung Bromo sepanjang tahun kepada masyarakat sekitar.

(YPH/HL)