Yang Penting Heppiii. Satu lagi kabar menggembirakan sekaligus membanggakan dari anak muda Indonesia. Kali ini torehan prestasi datang dari bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) meraih medali emas dalam event international yaitu Engineering Education Festival (E2Festa) 2019. Perhelatan yang diselenggarakan selama dua hari (26-27/11) di Incheon Korea Selatan ini diikuti oleh 22 universitas dari seluruh dunia seperti China, USA, India, Singapore, Thailand, Malaysia, Hongkong dan masih banyak lagi.
Riset tersebut bernama Tulibot, yang merupakan kombinasi antara aplikasi, smart glasses dan smart gloves. “Pengguna akan menggunakan smart gloves yang memanfaatkan bahasa isyarat American Sign Language (ASL) yang nantinya dapat menghasilkan sebuah audio. Tulibot akan mendeteksi audio melalui aplikasi kemudian diterjemahkan menjadi kata-kata yang ditampilkan melalui smart glasses yang digunakan pengguna,“ ujar Dosen Pembimbing, Dwi Kurnia, S.Si, M.Kom.

www.pens.ac.id
Ada enam mahasiswa terbaik yang tergabung dalam Tim Arek PENS ini menyajikan sebuah riset untuk membantu pendengaran penyandang tuna rungu yaitu Mochammad Ilham Maulana, Moch. Rifki Ramadhani, Yudha Sadewa, Muhammad Alan Nur, Muhammad Abdul Haq dan Namira Rizqi Annisa. Mereka dibimbing oleh Dwi Kurnia Basuki, S.Si., M.Kom dan Artiarini Kusuma N., S.ST., MT, selaku Dosen Pembimbing.
Untuk bisa menyabet medali emas, ada beberapa tahapan yang mereka selesaikan dengan sangat baik. Mulai dari penilaian presentasi, tanya jawab di booth pameran, penilaian tulisan paper, dan demo produk. Beruntung, dalam kompetisi ini, PENS berhasil meraih Grand Prize, dan menjadi satu-satunya peserta yang naik ke podium untuk menerima penghargaan bergengsi tersebut. Sedangkan penghargaan Excellent diraih oleh Tim Awesome Ponic dari Rose-Hulman Institute of Technology USA dan Tim 2KOIN dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Indonesia.
“Saya puas sekali karena kami bisa meraih medali emas dalam event bergengsi ini dengan mengalahkan universitas di kancah internasional. Harapannya produk Tulibot ini bisa lebih disempurnakan dan dapat digunakan oleh penyandang tunarungu,“ ujar Dosen Pembimbing, Dwi Kurnia, S.Si, M.Kom. Bangga banget punya anak-anak muda seperti mereka. Semoga temuan mereka bermanfaat di kemudian hari. (YPH/HL)