Yang Penting Heppiii. Madu, hasil alam yang punya sejuta manfaat, dan nggak akan habis walaupun diburu oleh manusia, atau dimakan oleh hewan. Itu karena, lebah akan terus memproduksi madu untuk kelangsungan hidupnya. Tentunya hal itu merupakan kabar gembira bagi manusia, nggak terkecuali dengan pemburu madu di Nepal ini.

Setiap dua tahun sekali, suku Gurung di Nepal rela mempertaruhkan hidupnya memanjat tebing Himalaya untuk mengumpulkan madu dari sarang-sarang lebah yang bergelantungan di tebing-tebing Himalaya yang curam dan terjal. Suku Gurung sudah melakukan tradisi ini sejak ratusan tahun yang lalu, turun temurun dari nenek moyang mereka.

Wah, lihat deh bapak ini, pasti sudah puluhan ribu ja ia habiskan untuk memanjat dan memburu madu di tebing Himalaya.

Source

Sayangnya keahlian memanjat tebing untuk memburu madu ini sudah mulai pudar, suplai madu di tebing inipun juga terus menurun sedikit demi sedikit.

Source

Widih, nikmat bener ya madunya!

Source

Tangga tali bikinan sendiri yang tampak menahan beban kaki seorang pekerja keras. Salut dah.

Source

Harus berjibaku dengan kawanan lebah, hanya dengan sebilah bambu. Epic.

Source

Harus diasap dulu untuk mengusir lebah. Panen nih.

Source

Apis dorsata laboriosa, lebah terbesar di dunia, dengan panjang 3 cm.

Source

Wuah gede banget kan sarang madunya.

Source

Ternyata madu di tebing Himalaya ini nggak dikonsumsi sendiri, hasil perburuan madu yang menghasilkan 200 liter madu pada musim gugur dan 80 liter madu pada musim semi, dibagi-bagikan secara merata untuk penduduk desa mereka. Madu merah hasil panen musim semi ini kemudian diekspor ke Jepang Korea, dan China untuk kebutuhan pengobatan di sana.

Tim yang siap menerima madu dibawah tebing.

Source

Lembaran sarang madu yang sangat besar. Gokil nih.

Source

Wah lihat dong ukurannya. Lega banget ngelihatnya ya.

Source

Pose dulu sebelum pulang.

Source

Truly amazing! Benar-benar surganya pemburu madu nih.

Source

Nggak cuma Gurung di Himalaya, tradisi memburu madu ini juga merupakan tradisi kuno yang sudah berlangsung sejak 8.000 sebelum masehi. Umumnya tradisi ini dipraktekkan oleh suku dan penduduk Afrika, Asia, Australia, dan Amerika Selatan. Bahkan di Indonesia, kegiatan perburuan madu ini masih berlangsung hingga saat ini di hutan-hutan Sumbawa dan Riau.

Jadi tahu kan sekarang, kenapa madu liar itu harganya berkali-kali lipat lebih mahal dibandingkan madu hasil dari lebah yang diternakkan. (YPH/HL)

Source