Yang Penting Heppiii. Ditengah gempuran zaman, keberadaan pelukis jalanan masih eksis hingga saat ini. Seperti di sepanjang trotoar Glodok, di sekitar kawasan Kota Tua Jakarta, sekitar 20 pelukis jalanan duduk memamerkan karya. Mereka juga menerima jasa pembuatan sketsa wajah. Ruko-ruko yang ada di sepanjang jalan dimanfaatkan para pelukis jalanan untuk mengadu nasib.

Source: detik.com
Beberapa sketsa wajah tokoh terkenal dipajang sebagai contoh lukisan. Dari sketsa Basuki Tjahja Purnama (Ahok) bergaya Bruce Lee sampai Suharto dengan cerutunya.
Sasaran para pelukis tersebut adalah para pejalan kaki yang akan menuju Kota Tua dan Jalan Pancoran. Saat melintas di trotoar tersebut, nggak jarang para pejalan kaki beberapa kali menoleh untuk melihat hasil karya pelukis. Ngomong-ngomong, pelukis di lokasi trotoar ini udah ada sejak tahun 1980-an lho. Wah hebat juga ya.
Para pelukis sketsa biasanya mematok harga dari Rp 150.000 sampai Rp 1,5 juta. Dalam sebulan, mereka bisa mendapat sekitar Rp 4 juta. Satu lukisan atau sketsa wajah membutuhkan waktu sekitar satu Minggu.Tapi kalau dikejar waktu, lukisan bisa selesai lima hari.

Source: detik.com
Sebenarnya, beberapa pelukis mengaku nggak nyaman melukis di pinggir trotoar. Suara bising kendaraan pun mengganggu konsentrasi saat melukis. Lokasi trotoar pun nggak terlalu sedap dipandang. Beberapa bangunan juga dibiarkan terbengkalai tak terurus.
Meskipun begitu, untuk tetap memiliki lapak di trotoar, mereka harus membayar uang sewa sebesar Rp 5.000 per hari. Selain itu, ada juga gudang untuk tempat menyimpan lukisan dengan biaya sewa Rp 50 ribu per bulan.

Source: detik.com
Sayang banget sih, karena sebenarnya keberadaan para pelukis jalanan ini juga merupakan daya tarik tersendiri buat pengunjung. Kalau seniman lukis terfasilitasi dengan baik kaya di luar negeri, pasti bakal unik banget kan. Bisa jadi media bagi pelukis dan pengunjung. Semoga pemerintah ngasih perhatian khusus ya buat mereka. (YPH/HL)