Yang Penting Heppiii. Gara-gara styrofoam, lima mahasiswa Universitas Diponegoro, Semarang sukses memenangi sebuah kompetisi inovasi internasional. Semua berawal dari keprihatinan mereka akan semakin menumpuknya sampah styrofoam di tengah masyarakat. Dari situ, mereka kemudian mengubah limbah styrofoam tersebut menjadi sebuah genteng ramah lingkungan.

Source: detik.com
Melalui karya Genteng Styrofoam, mereka menyabet medali emas pada ajang International Trade Fair of Ideas Inventions and New Product atau kompetisi tentang gagasan, penemuan serta Pameran produk Baru (iENA) 2018 yang diselenggarakan di kota Nuremberg, Jerman, 1-4 November lalu. Nggak tanggung-tanggung, 800 peneliti dari 30 negara di dunia berhasil mereka kalahkan.
Uniknya, selain ramah lingkungan, genteng styrofoam yang dinamakan ‘Environmental Friendly Anti-Earthquake Styrofoam Tile’ (E-FAST) ini juga anti gempa. Konsepnya, genteng berbahan semen dan pasir dicampur limbah styrofoam akan menghasilkan produk yang ringan dan tahan guncangan.

Source: siedoo.com
Limbah styrofoam merupakan salah satu limbah yang nggak ramah lingkungan, karena nggak bisa terurai oleh proses alami. Gagasan ini kemudian digabungkan dengan problem wilayah Indonesia yang cukup rentan terhadap bencana alam gempa bumi yang jamak dan mengakibatkan korban jiwa massal akibat tertimpa bangunan dan atap rumah.

Source: detik.com
Karena keresahan itu, maka munculah ide membuat genteng pres yang lebih ringan dengan komposisi bahan di antaranya menggunakan styrofoam. Karena memiliki massa yang lebih ringan, bisa meminimalisir dampak yang didapatkan apabila terjadi gempa bumi.
Kejelian melihat sampah atau limbah yang kemudian memunculkan sebuah ide kreatif inilah yang patut kita apresiasi, guys. Jangan mau kalah dong, daripada ghibah di medsos, kan mending punya karya kaya mereka, bikin bangga. (YPH/HL)