Yang Penting Heppiii. Di sebuah daerah terpencil di Pilbara, Australia, sebuah kereta nggak biasa, meliuk-liuk di jalur tanah merah. Komunitas Aborigin di Punmu, 700 kilometer di sebelah timur Newman, telah mengubah beberapa drum logam menjadi kereta yang unik.

Suku Aborigin Ubah Drum Jadi Bus Sekolah

Source: welcometocountry.org

Punmu adalah komunitas Aborigin yang terletak di jantung Australia Barat, yang terletak 640 km tenggara Port Hedland di Wilayah Pilbara Australia Barat, di dalam Shire of East Pilbara. Punmu dianggap sebagai komunitas paling terisolasi di Australia. Komunitas Punmu memiliki populasi sekitar 180 orang dan Manyjiljarra (diucapkan Mun-dul-jar-ah) adalah bahasa yang digunakan. Dua alasan utama mengapa Martu tinggal di tengah padang pasir adalah: untuk kembali ke tanah tradisional mereka dan menyelamatkan masyarakat dari dampak buruk alkohol, menghirup bensin, dan narkoba.

Suku Aborigin Ubah Drum Jadi Bus Sekolah

Source: brightvibes.com

John Reudavey, kepala arsitek kereta sekolah unik ini mendapat ide saat berlibur di Perth, di mana ia melihat beberapa drum ditarik di belakang mesin pemotong rumput. Dia melihat orang tua membayar $ 2 untuk anak-anak mereka bermain, dan lahir ide cemerlang ini.

Untuk medan Pilbara yang kasar dan nggak rata, Reudavey bersama sukarelawan Donald Graham, Peter Doery dan komunitas Punmu, menghubungkan barel yang kemudian ditempelkan pada sebuah traktor, yang akhirnya mampu menggerakkan seluruh sistem. Mereka memasang drum ke rangka logam dengan roda dan menghubungkannya bersama. Kereta ini bisa memuat 24 kursi.

Suku Aborigin Ubah Drum Jadi Bus Sekolah

Source: abc.net.au

‘Gerbong-gerbong’ itu didekorasi menggunakan karya seni desain dari anak-anak dan anggota masyarakat. Industri lokal seperti Newcrest Mining, Telfer memberikan dukungan yang diperlukan untuk keberhasilan penciptaan proyek ini. Western Desert Express Reudavey sekarang melayani sekitar 40 anak Punmu yang bersekolah di sekolah komunitas RAWA yang merupakan sekolah mandiri yang melayani siswa dari TK hingga Kelas 12.

Suku Aborigin Ubah Drum Jadi Bus Sekolah

Source: sinchi-foundation.com

Menurut Kepala Sekolah Sarah Mortimer, perjalanan itu aman dan positif dan disambut gembira oleh orang tua yang memiliki anak-anak kecil, yang sekarang dapat mengirim anak-anak mereka dengan aman dan tepat waktu ke sekolah. Walaupun kehadiran di sekolah nggak pernah menjadi masalah, tantangan terbesar yang dihadapi oleh Mortimer adalah kedatangan siswa. Kepala sekolah berharap bahwa kereta DIY ini akan membantu mengatasi masalah kedatangan terlambat dan mendorong siswa untuk lebih bersemangat datang ke sekolah.

Bagi Reudavey, kebahagiaan terbesar adalah pandangan yang bersemangat pada wajah anak-anak ketika mereka menunggu naik kereta drum unik mereka setiap pagi, dalam keadaan apapun, hujan, hujan es atau cerah. (YPH/HL)