Yang Penting Heppiii. Perayaan Hari Raya Idul Fitri di Indonesia ini beragam, masing-masing daerah punya kebiasaannya masing-masing dalam menyambut hari kemenangan. Uniknya, sebagian besar masih mempertahankan tradisi sungkeman. Tahu nggak sih guys, gimana asal muasal sungkeman ini.
Berasal dari Kota Solo
Sungkeman massal pertama kali dilakukan di zaman KGPAA Sri Mangkunegara I. Pada masa itu usai menjalani shalat Ied, mereka saling bermaaf-maafan sambil memberi nasihat satu sama lainnya. Sejak saat ini, beberapa acara seperti perayaan, perpisahan, dan lebaran turut diikuti dengan tradisi sungkem.

Salah satu Budaya Jawa
Dalam budaya Jawa sungkem memiliki 2 makna, yaitu sebagai lambang penghormatan ke yang lebih tua dan sebagai permohonan maaf. Itulah sebabnya saat lebaran lazimnya sungkeman dilakukan dengan posisi orangtua duduk, kemudian anak-anak secara berurutan mulai dari yang paling tua mengantri untuk bersimpuh di depan orangtua.

Source: tulisanbloko.wordpress.com
Bentuk ‘penyerahan diri’
Penyerahan diri di sini bukan berarti bentuk penyembahan ke sesama manusia. Melainkan, bentuk melatih diri untuk rendah diri dan mengakui kesalahan yang telah diperbuat. Pengakuan ini dilakukan dari orang yang lebih muda ke orang yang lebih tua.

Source: bernas.id
Sebagai Ucapan Terima Kasih
Tak hanya untuk momen lebaran, nyatanya tradisi sungkem juga ada lho di ritual pernikahan adat Jawa. Tradisi sungkem di pernikahan ini memiliki makna ungkapan terima kasih dan rasa syukur kita kepada orangtua.

Source: jogjaupdate.com
Cuma ada di Indonesia dan Turki
Tradisi sungkem saat lebaran ternyata hanya ada di Indonesia dan Turki lho. Sungkem di kedua negara ini sama-sama memiliki makna sebagai permohonan maaf. Kalau di Indonesia usai melakukan sungkem biasanya ada acara bagi-bagi uang atau Tunjangan Hari Raya (THR), di Turki usai sungkeman, para orangtua berbagi permen atau makanan manis kepada anak.

Source: dream.co.id
Nah, itu tadi beberapa fakta mengenai tradisi sungkem saat lebaran. Kamu masih melakukan tradisi ini nggak guys? Kalau bisa jangan sampai punah ya tradisi yang adem di hati ini. (YPH/HL)