Yang Penting Heppiii. Vaksin adalah salah satu hal mendasar yang sangat penting untuk bayi dan anak-anak. Tapi meskipun demikian, ternyata masih banyak orang tua menolak untuk memvaksin anaknya dengan berbagai alasan. Salah satunya, karena vaksin dianggap nggak efektif mencegah penyakit, malah bisa menyebabkan gangguan mental kaya autis dan penyakit kronis. Pemahaman seperti ini nggak cuma terjadi di Indonesia, tapi juga di Amerika Serikat.

Vaksin, Kalau Nggak Kenal Maka Nggak Sayang

Source: bandung.merdeka.com

Tapi benarkah vaksin berbahaya untuk anak-anak? Yuk, kita luruskan anggapan-anggapan negatif tersebut di sini.

Mitos: Vaksin nggak memberantas penyakit.

Satu-satunya penyakit yang jauh berkurang, bahkan di beberapa tempat tidak lagi ditemukan adalah cacar. Penyakit lainnya datang dan pergi seperti batuk rejan dan campak. Atau polio, di negara-negara berkembang. Kalau berharap vaksin bisa memberantas semua virus selamanya, tentu itu nggak akan terjadi ya. Karena tujuan vaksin adalah upaya perlindungan untuk anak secara pribadi.

Mitos: Jadwal vaksin yang diberikan dokter terlalu berlebihan banyaknya untuk anak-anak.

Faktanya, pemberian vaksin nggak seberapa kalau dibandingkan dengan apa yang dihadapi anak-anak setiap hari. Udara dan lingkungan sekitar anak-anak mengandung bakteri, mikroba dan virus dalam jumlah yang sangat banyak. Studi menemukan bahwa anak-anak dapat dengan aman merespon sebanyak 100.000 vaksin dalam dosis terukur, sekaligus. CDC (Center of Disease Control and Prevention) merekomendasikan anak-anak mendapat hanya 14 jenis vaksin dalam waktu dua tahun.

Mitos: Vaksin MMR menyebabkan austis.

Mitos ini dimulai tahun 1998 oleh studi tim Dr. Andrew Wakefield dan dipublikasikan dalam jurnal The Lancet. Studi tersebut mengevaluasi 12 anak, delapan di antaranya dikatakan oleh orangtua masing-masing, mendapat gangguan perilaku setelah vaksin MMR. Studi ini menyebabkan kepanikan, angka vaksinasi turun dan angka penyakit naik. Tapi kemudian, para editor Lancet secara resmi menarik publikasinya dan mengatakan bahwa itu semua berdasarkan informasi yang diragukan.

Vaksin, Kalau Nggak Kenal Maka Nggak Sayang

Source: inews.id

Mitos: Vaksin tidak 100 persen aman.

Ini benar, tapi menghindari vaksin juga nggak aman. Hampir semua vaksin diberikan lewat suntikan. Ini menyebabkan rasa sakit dan sedikit luka sementara. Efek samping lainnya adalah demam, anak rewel dan alergi. Komplikasi yang lebih serius, jarang terjadi. Misalnya vaksin rotavirus zaman dulu yang sekarang sudah dilarang beredar, pernah diduga terkait dengan masalah penyumbatan usus. Vaksin rotavirus yang baru tidak ditemukan terkait dengan gangguan penyumbatan usus dalam bentuk apapun.

Mitos: Vaksin tidak mempan melawan penyakit.

Karena beberapa vaksin telah ada selama lebih dari 50 tahun, sebagian besar orangtua muda tidak akrab dengan penyakit yang mereka coba cegah. Misalnya, sebelum vaksin tersedia pada tahun 1963, hampir semua orang pernah menderita campak sebelum usia 15 tahun. Di Amerika Serikat, penyakit ini pernah menewaskan rata-rata 450 orang tiap tahun, sebagian besarnya adalah anak-anak. Setelah vaksin diperkenalkan, kasus campak pernah mencapai titik terendah yaitu 37 kasus pada 2004.

Vaksin, Kalau Nggak Kenal Maka Nggak Sayang

Source: srahec.org

Jadi sekarang, nggak ada alasan lagi ya buat nggak memvaksin anak-anak. Bumi ini udah terlalu kotor sob, kalau nggak dilindungi, kasian mereka juga dong. (YPH/HL)

Source