Kopi itu emang potensinya luar biasa banget. Tipe dan cara minumny juga unik-unik dan berbeda di setiap daerah. Nah, kaya warga Desa Banjar, Kecamatan Licin, Banyuwangi ini, mereka memiliki keunikan saat minum kopi yang diberi nama “kopi uthek”. Kenapa dinamain kopi uthek? Karena cara minumnya unik, yaitu secangkir kopi pahit, dinikmati dengan gigitan gula aren yang terpisah. Nah waktu gula aren tersebut digigit akan mengeluarkan bunyi “thek”. Ketika gula arennya sudah tergigit dan ada di dalam mulut, langsung deh disruput kopi pahitnya.

Untuk memperkenalkan keunikannya tersebut, warga menggelar Festival Sego Lemeng dan Kopi Uthek, di desa yang terletak di kaki Gunung Ijen itu. Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengatakan bahwa pemkab terus mendorong Desa Banjar menjadi desa wisata, karena warga Desa Banjar yang terus berkreasi untuk mengangkat potensi desa mereka, disamping kekayaan alam yang dimiliki.

Pada festival ini, warga menyulap jalan desa menjadi ruang tamu yang dilengkapi dengan puluhan meja dan kursi untuk menyambut pengunjung yang hadir. Di meja itu disediakan kopi uthek dan sego lemeng. Sego lemeng itu nasi yang digulung dengan daun pisang, didalamnya diisi cacahan daging ayam atau ikan, terus dibakar. Hmm yummy!

Yang bikin tambah seru, festival ini dimeriahkan Jazz Patrol dan seni budaya Korea dan Filipina yang dibawakan oleh mahasiswa dan guru program pertukaran budaya. Kayanya keren banget ya acaranya. Jadi nyesel kemarin nggak dateng.